Ayatus Syaitan al-Khomeini

"Iman seorang Syi’ah tidak sempurna, kecuali setelah berbeza (menentang) dengan Ahli Sunah...Apabila seorang Ahli sunnah bersemangat mengamalkan ibadah, maka dia telah bersemangat mengamalkan kebatilan."
[al-Khomeini, Al-Hukumat Al-Islamiyah, m.s. 83]

"Adapun Nawasib (Ahli Sunnah) dan Khawarij semoga dilaknati Allah tanpa ragu-ragu adalah najis."

[al-Khomeini, Tahrir al-Wasilah, jil.1, m.s : 118]

Ali Akbar Hashemi Rafsanjani

"Tentera Iran telah memerangi TALEBAN, dan bekerjasama menjatuhkannya, jika tidak kerana bantuan tentera Iran dalam peperangan TALEBAN, Amerika telah tenggelam di bumi AFGHANISTAN".... seharusnya Amerika mengetahui, jika tidak kerana tentera Iran, Amerika tidak mampu menjatuhkan TALEBAN!"
[Khutbah Jumaat di Universiti Tehran, 8 Februari 2002]

Mohamad Ali al-Abtahi

“Jika tidak kerana orang-orang Iran, KABUL dan BAGHDAD tidak akan jatuh (ke tangan Amerika) dengan mudah!”
Ucapan Perasmian Penutup Seminar Teluk : Cabaran dan Masa Depan di UAE, 15/1/2004
[Bekas Naib Presiden Kepada Mohamed Khatami]

George W. Bush

"I'm driven with a mission from GOD. GOD would tell me, 'George, go and fight those terrorists in AFGHANISTAN.' And I did, and then GOD would tell me, 'George go and end the tyranny in IRAQ,' and I did."
[The Independent, 7 October 2005]

Wednesday, April 22, 2009

"Pasukan Kristian" AS Memang Ada di Iraq

Keyakinan banyak orang yang menyebut perang AS di Irak adalah "Perang Agama", bisa jadi ada benarnya. Ini tersirat dari paket-paket yang sedianya akan dikirim ke pasukan AS yang saat ini sedang bertugas di Irak.

Namun, sebelum paket-paket itu dikirimkan, lembaga yang bernama Military Religious Freedom Foundation pekan kemarin meminta agar dilakukan investigasi atas paket-paket tersebut. Setelah munculnya desakan itu, Pentagon langsung mengumumkan bahwa mereka tidak jadi mengirimkan paket yang mereka sebut sebagai "Paket Kebebasan" ke pasukan AS yang ada di Irak.

"Paket Kebebasan" itu isinya memang mencurigakan dan menimbulkan tanda tanya apa sebenarnya motif Pentagon mengirimkan paket tersebut. Karena isi paket tersebut bukan senjata atau kue-kue khas yang bisa mengobati kerinduan para tentara AS terhadap tanah airnya.

Tapi isinya adalah injil, materi-materi yang isinya mengajak orang memeluk agam Kristen dalam bahasa Inggris dan Arab, serta game komputer berjudul "Left Behind: Eternal Forces" berisi permainan tentang "pasukan Kristus" yang sedang memburu musuh-musuhnya.

Surat kabar Los Angeles Times edisi Rabu (22/8) yang menulis berita ini menyebutkan, paket-paket tersebut disisipkan oleh lembaga Kristen fundamentalis bernama Operation Straight Up-OSU yang diketuai oleh seorang mantan petinju Jonathan Spinks.

OSU adalah anggota resmi dari program "America Supports You" yang digalang oleh Departemen Pertahanan AS. OSU kerap menggelar acara hiburan bernuansa relijius di basis-basis militer AS dengan melibatkan tokoh-tokoh Evangelis dari kalangan olahragawan, bahkan aktor, di antaranya aktor Stephen Baldwin.

Belakangan, aktivitas OSU terfokus ke Irak. Dalam situs resminya, OSU mengumumkan bahwa mereka akan menggelar acara hiburan dengan judul "Military Crusade", tapi entah mengapa, pengumuman ini dihapus dari situs OSU pekan kemarin.

Keterlibatan OSU yang membawa bendera agama di Irak lewat militer AS, makin memperjelas adanya hubungan yang makin erat antara militer AS dan kelompok-kelompok Evangelis.

Skandal terakhir yang membuktikan adanya hubungan itu adalah, ketika terungkap bahwa sejumlah pejabat di Pentagon sengaja membiarkan kru film dari organisasi Christian Embassy hilir mudik dengan bebasnya di koridor-koridor gedung Pentagon tanpa pendamping dari Pentagon, saat membuat video promosi sejumlah pejabat tinggi di Pentagon.

Christian Embassy adalah organisasi Kristen yang secara terbuka menyatakan tujuan dari organisasinya adalah mengajak para personil militer, diplomat, staff gedung Capitol Hill dan para politisi untuk memegang teguh agama Kristen.

Terungkapnya hubungan antara Pentagon dan organisasi-organisasi Kristen ini telah merusak kepercayaan internasional atas niat baik AS di Irak. Karena biar bagaimanapun keterlibatan organisasi-organisasi Kristen fundamentalis ini memberi pengaruh pada atmosfir kemiliteran AS, meskipun para personil militer AS bersumpah bahwa mereka mempertahankan dan melindungi konstitusi, bukan Alkitab, kitab suci umat Kristen.

Kasus lainnya yang menunjukkan pengaruh organisasi-organisasi Kristen fundamentalis di kemiliteran AS adalah kasus Letnan Jenderal William "Jerry Boykin", deputi bidang intelejen militer. Pentagon menugaskan Boykin untuk memburu Usamah bin Ladin dan para anggota al-Qaidah pada tahun 2003. Tapi pada tahun yang sama, Boykin diketahui melakukan kunjungan ke gereja-gereja di AS-dengan masih mengenakan seragam militer-memberikan ceramahnya. Tantang perang Irak Boykin mengatakan bahwa "Kami sedang dalam perang spiritual."

Dalam sebuah ceramah di depan jamaah Kristen di Oregon, Boykin bahkan mengatakan, "Setan ingin menghancurkan bangsa ini... Dan ia ingin menghancurkan kita, para tentara Kristen. "

Para pengamat internasional berulang kali mengingatkan agar militer AS tidak melontarkan retorika perang agama terkait perang Irak. Namun fakta makin memperjelas bahwa perang AS di Irak, bukan semata-mata perang dengan dalih memberantas terorisme. (ln/commondreams/eramuslim)


http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5446_0_12_0_M

Hezbollah Lebanon Dituduh Menggoyang Mesir

Oleh Musthafa Abd Rahman

KOMPAS.com - Mesir bikin kejutan dengan menangkap jaringan antek-antek Hezbollah Lebanon dalam beberapa hari terakhir ini dengan tuduhan mengancam keamanan negara. Hezbollah menolak keras tuduhan itu.

Pemimpin Hezbollah Lebanon, Sheikh Hassan Nasrullah, dalam pidatonya melalui televisi Al Manar hari Jumat (10/4) mengakui, Sami Shihab yang kini ditangkap di Mesir adalah anggota Hezbollah.

Menurut Nasrullah, Sami Shihab mendapat tugas khusus membantu logistik menyelundupkan senjata ke Jalur Gaza, Palestina. Opini di Timur Tengah kembali terbelah antara pihak yang pro dan kontra terhadap Hezbollah.

Itulah potret baru Timur Tengah yang karut-marut. Perbedaan antara prinsip kedaulatan sebuah negara dan kemuliaan dari misi membela perjuangan rakyat Palestina menjadi sangat tipis, bahkan tumpang tindih.

Kekaburan perbedaan tersebut kini memicu keributan antara Mesir dan Hezbollah Lebanon selama pekan ini.

Sejarah kelam pun berulang di Timur Tengah, sebagaimana biasanya. Peristiwa Black September tahun 1970 antara PLO dan Pemerintah Jordania, yang berakhir dengan diusirnya PLO dari Jordania, adalah juga akibat tidak jelasnya koridor antara prinsip kedaulatan sebuah negara, dalam hal ini Jordania, dan kemuliaan misi membela perjuangan rakyat Palestina, yang menggunakan wilayah Jordania.

Saat itu, PLO dengan dalih perlawanan terhadap pendudukan Israel terus memperkuat diri dengan mendatangkan berbagai jenis senjata yang diimpor dari pelbagai negara.

PLO, tanpa koordinasi dengan Jordania, melancarkan serangan-serangan terhadap Israel di dekat perbatasan dengan Jordania.

Pertempuran Israel-Palestina paling terkenal terjadi di Desa Karamah (daerah perbatasan Israel-Jordania) tahun 1968, yang memaksa Israel mundur dari arena pertempuran. Pada saat itu, banyak korban dari pihak pasukan Yahudi.

Merebut Kerajaan Jordania

Sejak itu, PLO merasa lebih kuat dan bahkan meremehkan Jordania. Slogan ”Perlawanan di atas segalanya” pun kemudian muncul di jalan-jalan raya di kota Amman dan kota lainnya di Jordania.

Perilaku gerilyawan Palestina saat itu bak berada di atas hukum dan seakan-akan Jordania adalah negerinya sendiri. Singkat kata, PLO seperti berada di atas angin.

Situasinya kemudian semakin tidak terkendali hingga meletus peristiwa upaya PLO mengambil alih kekuasan Raja Hussein bin Talal di Jordania pada bulan September 1970 yang kemudian dikenal dengan Black September 1970.

Pertempuran berdarah pun tak terhindar antara gerilyawan bersenjata Palestina dan pasukan Jordania yang masih setia kepada Raja Hussein bin Talal di jalan-jalan raya kota Amman.

Akhirnya, pasukan Jordania mampu membekuk gerilyawan Palestina dan Yasser Arafat dengan PLO-nya diusir dari negeri itu. Yasser Arafat dan PLO kemudian pindah markas ke Lebanon (1970-1982).

Terulang lagi di Lebanon

Yasser Arafat dan PLO mengulang lagi aksinya di Lebanon, seperti yang pernah dilakukan di Jordania. Kekuatan militer PLO di Lebanon semakin kuat hingga saat itu PLO mampu mengontrol wilayah Lebanon Selatan yang langsung berhadapan dengan perbatasan Israel.

Yasser Arafat dalam wawancara dengan sebuah majalah bulanan Arab pada tahun 1990-an mengakui bahwa PLO pernah mengontrol kebijakan pemerintahan di Lebanon dalam beberapa waktu.

Apa yang terjadi di Lebanon kemudian justru lebih dahsyat dari apa yang terjadi di Jordania. Lebanon terjerat perang saudara selama 15 tahun (1975-1990). Pihak PLO berandil besar di dalamnya.

Akhirnya, Israel ikut melancarkan agresi besar-besaran ke Lebanon pada tahun 1978 dan dilakukan lagi pada tahun 1982. Aksi Israel ini berhasil memaksa PLO keluar dari Lebanon. PLO kemudian pindah markas lagi ke Tunisia. Era perlawanan bersenjata PLO lalu berakhir dengan dicapainya kesepakatan Oslo tahun 1993.

Muncul pemain baru

Kemudian muncul Hezbollah sebagai pemain baru dalam arena perlawanan bersenjata terhadap Israel. Para aktivis Hezbollah semula banyak mendapat latihan militer dari para perwira Palestina, sewaktu PLO masih berada di Lebanon.

Pascahengkangnya PLO dari Lebanon tahun 1982, para pengawal revolusi Iran mengambil alih dalam melatih pemuda-pemuda Hezbollah itu. Hezbollah yang lahir secara resmi pada tahun 1982 lalu mengibarkan bendera sendiri dalam melancarkan aksi perlawanan terhadap Israel.

Kelompok Hezbollah makin membesar, hingga seperti negara dalam negara di Lebanon. Perilaku Hezbollah pun pada tahun 1980-an dan 1990-an seperti PLO pada tahun 1970-an. Hezbollah menguasai wilayah Lebanon Selatan dan sering melancarkan serangan terhadap Israel tanpa koordinasi dengan pemerintah pusat Lebanon.

Itulah yang menyebabkan Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon tahun 1996 dan pada 2006. perlawanan Hezbollah memang membawa hasil besar, yakni memaksa Israel mundur dari Lebanon Selatan pada bulan Mei tahun 2000, setelah menduduki wilayah ini selama 22 tahun, sejak tahun 1978.

Akan tetapi, gerak Hezbollah pasca-agresi Israel ke Lebanon tahun 2006 sudah dibatasi dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang juga mengakhiri agresi Israel itu.

Resolusi DK PBB tersebut memberi mandat kepada pasukan Pemerintah Lebanon dan UNIFIL (Pasukan Perdamaian PBB untuk Lebanon) memperluas penyebaran wilayah ke Lebanon Selatan untuk menyangga perbatasan Israel dan gerilyawan Hezbollah.

Adanya pasukan penyangga itu membuat gerilyawan Hezbollah tidak leluasa lagi mencapai perbatasan Israel.

Pindah ke Jalur Gaza

Wilayah Lebanon Selatan relatif dipasung dengan Resolusi DK PBB itu. Hal ini mengalihkan gerakan perlawanan bersenjata terhadap Israel ke Jalur Gaza yang dikontrol oleh Hamas.

Pengalaman Hamas mampu bertahan dari serangan besar Israel selama 22 hari, dari 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009, membuat kelompok properlawanan bersenjata, seperti Hezbollah dan juga Iran, menjadikan Jalur Gaza sebagai ujung tombak melawan Israel secara militer.

Jalur Gaza kini adalah satu-satunya wilayah terbuka yang berbatasan langsung dengan Israel, tanpa ada batasan atau pasungan dari Resolusi DK PBB. Israel telah mencoba menawarkan penempatan pasukan perdamaian internasional di sepanjang perbatasan Mesir-Jalur Gaza, seperti UNIFIL di Lebanon Selatan. Mesir menolak keras tawaran Israel tersebut.

Itulah yang membuat Hezbollah dan juga Iran kini melihat Jalur Gaza sebagai wilayah terbuka.

Hambatan satu-satunya menuju Jalur Gaza adalah geografis, yakni harus melewati Mesir. Bagi Hezbollah dan Iran, Mesir bukan negara sahabat. Berbeda dengan posisi Suriah yang merupakan negara sahabat dan bisa menjadi wilayah pertahanan belakang bagi gerilyawan Hezbollah di Lebanon Selatan.

Hezbollah memutuskan menggunakan segala cara untuk mencapai Jalur Gaza dengan menyusupkan orang-orangnya ke Mesir. Muncul tuduhan bahwa penyusupan itu bertujuan menguasai pemerintahan Mesir. Kemudian muncul berita pengeboman oleh pesawat tempur Israel atas konvoi truk yang membawa senjata di pelabuhan Sudan pertengahan Januari lalu. Senjata itu akan dikirim ke Jalur Gaza melalui Sudan dan Mesir.

Prinsip Hezbollah saat ini seperti PLO tahun 1970-an, yakni perlawanan di atas segala-galanya meskipun harus mengobrak-abrik kedaulatan negara lain demi kemuliaan misi membela perjuangan Palestina.

Mesir tentu saja marah besar dan menolak diperlakukan seperti itu.

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/15/05560461/Hezbollah.Lebanon.Dituduh.Menggoyang.Mesir